![]() |
![]()
IBARAT MUSIK, SEPERTI 'HARD ROCK'
V. Yoyok Suryadi & Sensei Budi Martadi



Kini Para penggemar tayangan olahraga beladiri, dapat tononan baru.Setelah Smack Down yang hanya sekadar hiburan, kemudian Ultimate Fighting Champinship sampai ke Pride fighting Championships Bagi sihir baru, tayangan tersebut mejadi favoitt bagi penggemar.
"Saya heran, meski ditipu kok ya banyak pengemarnya": kata V. Yoyok Suryadi, pemegang Dan V Tae Kwondo, pengurus Persatuan Tekwondo DIY, mengomentari soal tayangan Smack Down, gulat bebas yang sebenarnya hanya seni pertunjukan tidak sungguh-sungguh..
Namun demikian, Yoyok justru tertarik pada UFC yang kian banyak penggemarnya. Menurutnya, duel dari berbagai aliran beladiri tersebut, biasanya berakhir dengan 'ground fighting'. Mengapa gaya demkian ? Yoyok mengatakan, karena hanya pertandingan satu lawan satu. Tetapi akan lain jadinya, jika duel itu lebih dari satu orang. Sehingga perkelahian tidak hanya satu lawan satu, maka dipastikan akan seru.
Terlepas dari semuanya, Yoyok menganggap bahwa duel bebas di UFC itu dari sisi positif menjadikan wawasan baru. Menunjukkan bahwa da juga ilmu beladiri yang tidak hanya mengandalkan keindahan bentuk atau seni saja. Namun ada ground fighting, atau 'uleng'. Apapun caranya pokoknya menang.
"Beladiri tak hanya seperti yang dilihat di film saja," katanya.. Duel bebes tersebut, sebenarnya di Amerika sudah ada sejak 1993. bahkan sejumlah pertarungan sudah digela serti 'Ultimate-ultimate', 'King of Cage', 'Valetudo ( Brasil )', 'Panchreache', 'X-treme', dan masih banyak lagi.
Pertarungan gaya UFC atau PFC tersebut, bagi Budi Martadi, Group Leader Genbukan Ninpo, aliran Ninjutsu DIY, bisa menimbulkan kesan kurang baik bagi beladiri, khususnya anak-anak. Sebab menurut pelatih Ninjutsu tersebut, beladiri bukan hanya diikuti orang dewasa tatapi juga anak-anak.
"Kalau sudah gaya demikian , akan menghilangkan kesan fiosofi dalam ilmu beladiri."katanya. Ia kemudian menunjuk contoh, misalnya bagi karate akan kehilangan filosofi karatedo, bagi Ninjutusu meghilangkan makna jiwa Fudosin. Sebab bagi perguruan beladiri klasik yang cukup populer di Jepang tersebut, ada filosofi 'Tehe Gate to Wisdom', atau jembatan menujuk kebijaksanaan.
Baik Yoyok atau Budi Martadi sepakat bahwa sebenarnya, beladiri itu bukan hanya untuk menang dan kalah, tetapi lebih jauh dari itu. " katanya. Dalam duel bebas gaya UFC tesebut berkesan beladiri hanya untuk menang dengan segala cara.
KR. Senin Legi 15 April 2002
Home | Redaksi | Iklan | Diskusi | Kontak
Toko On Line | Pengelola | Link